69 Tahun GKI Masuk di Paniai, Diperingati

Friday, 18 January 2008 18:42
Bertempat di Lapangan Soeharto, Senin (14/1), jemaat GKI Kingmi Papua memperingati HUT ke-69 GKI masuk di wilayah Paniai.  Terlihat sekitar 7.000 lebih jemaat dari 6 Klasis Koordinator Paniai Timur tumpah di Lapangan Soeharto Enagotadi.
Sejak pagi jemaat dari semua klasis mulai berdatangan. Peringatan ini merupakan pertama setelah beralih dari Gereja Kemah Injil Indonesia menjadi GKIP Papua. Peringatan ini ada keunikan tersendiri, seluruh jemaat mengenakan busana tradisonal Koteka dan Moge.
Perayaan HUT GKI ke-69 ini diangkat dengan thema peringatan, “Berubah Untuk Menjadi Kuat dan Sub Tema Melalui Hut Masuknya Injil, Kita Meningkatkan Kualitas Iman, Pelayanan Dan Persatuan Umat Menuju Paniai Baru.”
Acara itu dihadiri pejabat SKPD pemerintah dan anggota DPRD Kabupaten Paniai, pimpinan TNI/POLRI, tokoh sejarah gereja yang pertama Pdt. Zet Yeimo, Ny. Carolina Mote/Gobay istri almarhum Karel Gobay, Keluarga Uwatawogi Yogi, tokoh masyarakat, adat, pemuda, para hamba Tuhan dari dedominasi gerejani di Paniai.
Dalam khotbah yang disampaikan Pdt. Hendrik W. asal Israel, melalui HUT GKI ke-69 ini diharapkan jemat menumbuhkan buah-buah roh yaitu damai, suka cita, dan kegembiraan dalam kehidupannya. Firman juga mengajak agar kita berdoa dan bekerja secara terus menerus dalam kehidupan kita.
Selain itu, dalam sambutan Sinode GKIP Pdt. Sablon Karubaba, MA mengajak terang Kristus sudah hadir mulai dari Paniai membagi ke timur, barat, utara dan selatan. Walaupun dihantam ombak dan gelombang, walaupun ada ancaman, tetapi terang itu sudah datang dan tidak ada orang yang memadamkan.
Pihaknya mengajak jemaatnya untuk bersatu merapatkan barisan dan berbenah diri, terus merubah agar dapat menemukan suatu kesempurnaan yang abadi sesuai dengan yang diharapkan Allah. “Dengan kemauan yang keras, dengan kerendahan hati masing-masing anggota jemaat menuju papua dan paniai baru yang kita dambakan bersama,” tutur Karubaba.
Wakil Bupati, Derek Pakage mengajak umat memperkokoh persatuan dan kesatuan, bekerja keras, mengubah perilaku secara terus menerus seiring dengan perubahan jaman, dan membangun diri mulai dari OWAADAA. Pemerintah juga terus menerus melakukan perhatian terhadap berbagai program, yang akan dilaksanakan dededominasi gereja di Kabupaten Paniai.
DR. Beny Giay juga mengatakan, Gereja Kingmi Papua saatnya menerapkan teologi sosial gereja harus berbicara masalah pendidikan, ekonomi, kesehatan, adat, hukum, dan iman. Perhatian gereja ke depan adalah bagaimana keluarga-keluarga dapat memainkan peranan sebagai pusat perhatian manusia.
“Sekarang saatnya harus menggali nilai-nilai budaya orang mee yang sudah puna seperti OWADAA sebagai dasar orang mee maka harus di kembangkan dan dilestarikan oleh orang Mee yang juga adalah masyarakat dan anggota gereja,” tutur Giyai.
Kata Beny, keluarga wajib membina anak secara terus menerus sehingga dia bisa manjadi kader keluarga, masayarakat, pemerintah dan gereja. Jaga mereka, bina mereka karena mereka adalah harapan masa depan tanah ini.(eba) sumber :http://www.paniai.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=107&catid=1&Itemid=94
    

Related product you might see:

Share this product :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Free Templates | Mas Template
Copyright © 2012. Solidaritas Anak Bangsa - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger