Mahasiswa Afirmasi di Universitas Sam Ratulangi Manado Butuh Perhatian


Mahasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi Universitas Sam Ratulangi, Manado (Foto: Ventje Ropa, UP4B)
Mahasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) berharap agar para dosen memberikan keberpihakan, pendampingan dan pengecualian. Demikian antara lain yang terungkap dalam dialog antara mahasiswa ADIK, UP4B dan Rektor Unsrat yang diwakili PR III Prof. DR. R. Kairupan, di ruang rapat Rektorat Unsrat Manado (22/8/14).
Menurut Jackson mahasiswa afirmasi angkatan 2012 dan 2013 ada kekhawatiran jika penamatan kuliah nanti. Itu karena aturan mensyaratkan setiap mahasiswa harus memiliki sertifikat pengenalan kampus. Bagaimana dengan yang tidak mengikuti pengenalan kampus, karena terlambat mengawali kuliah? Ia juga menyoroti, adanya mahasiswa ADIK yang tidak kuliah, tetapi masih tetap mendapatkan transfer beasiswa setiap 3 bulannya.
Pembantu Rektor III, Prof. DR. R. Kairupan, menyampaikan tanggapan terkait dengan adanya dosen yang belum mengetahui tentang program afirmasi. Sebenarnya pihak rektorat sudah mensosialisasikan dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan masing-masing dekan dan dosen di fakultas tentang afirmasi. Jika masih dirasakan ada yang belum tahu, ia akan kembali menyampaikan masalah ini.

Sebelum mengadakan pertemuan dengan mahasiswa ADIK, Tim UP4B menemui Rektor Prof. DR. Jenny Kumaat di ruang kerjanya. Rektor menyambut baik kehadiran mahasiswa Papua. Pihak Unsrat merasa senang setiap tahun ada mahasiswa dari Papua bertambah termasuk mahasiswa afirmasi, namun mereka hendaknya mendapatkan pembinaan khusus. “Kami berharap adik-adik Papua menjadi orang yang memiliki kemampuan intelektual. Kampus adalah tempat menimba ilmu dan berpikir rasional”, ungkapnya.

Kita dukung terus, agar mahasiswa Papua nyaman berada di lingkungan kampus, dan mahasiswa lain juga sama-sama nyaman. Suasana yang harmoni akan tercipta lingkungan belajar dengan baik. Ini agar menjadi perhatian, apabila masih terjadi hal-hal yang tidak dinginkan, “Saya tidak urus lagi mahasiswa seperti itu, dan saya langsung menelepon pemerintah atau bupatinya”, tegas Ibu Rektor.

Prof. DR. Ralf Kairupan, Pembantu Rektor III mendampingi Rektor, Prof. DR. Jenny Kumaat, menambahkan secara spesifik sinyalemen Ibu Rektor itu, belum didapati bagi mahasiswa ADIK. Namun apa yang disampaikan menggambarkan secara keseluruhan, karena Mahasiswa ADIK juga bagian dari adik-adik asal Tanah Papua lainnya.

Dalam rangkaian Monitoring dan Evaluasi Program ADIK 2014 di Universitas Sam Ratulangi Manado, tim monitoring afirmasi UP4B mengunjungi beberapa asrama dan rumah kos mahasiswa ADIK Angkatan 2012, 2013 dan 2014.

Universitas Sam Ratulangi secara institusi telah menerima mahasiswa/i afirmasi selama tiga tahun berturut, dimulai tahun 2012, terdapat 105 Orang Mahasiswan dan hingga pada saat ini tinggal 50 Orang Mahasiswa di semester ganjil 2014/2015 dan akan berkurang lagi namun SK Rektor masih dalam proses. Kemudian Mahasiswa angkatan 2013 terdapat 36 Orang Mahasiswa dan pada semester ganjil 2014/2015 akan berkurang/diberhentikan 2 Orang Mahasiswa namun SK Rektor masih dalam proses. Dan Mahasiswa ADIK angkatan 2014 berjumlah 92 Orang Mahasiswa, yang datangnya 3 gelombang, sehingga SK Rektor masih dalam proses.

Sementara capaian prestasi mahasiswa berdasarkan hasil evaluasi akademik angkatan 2012 dan 2013, nilai IPK tertinggi 3.50 atas nama Steven C.N. Numberi fakultas Pertanian Jurusan Agro Eko Teknologi dan ada beberapa mahasiswa yang memiliki IPK 0 koma yang terancam diberhentikan. (Adrianus Taroreh & Ventje Ropa, UP4B)
Read 147 times 
LIPUT  Oleh Naut 
sumber ;
http://www.up4b.go.id/ 

Related product you might see:

Share this product :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Free Templates | Mas Template
Copyright © 2012. Solidaritas Anak Bangsa - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger