• Latest News

    Senin, 16 Maret 2015

    KAMI INTELEKTUAL PAPUA MENOLAK ATAS PERNYATAAN PANLIMA RENCANA TAHUN 2015 AKAN MENAMBAH APARAT KODAM DI PAPUA





    Demi Pigai
    Saya An.KIMUPAPA PANBAR PIGAI,SH salah seorang Intelek Tual Papua menolak atas pernyataan yang disampaikan oleh PANLIMA tentang rencana Tahun 2015 akan Penambahan Kondam di Papua dengan tujuan mengamangkan situasi criminal baik itu Daerah Kabupaten/Kota maupung Distrik, Pesisir dan Pegununggan. Karena Pada hakekatnya Masyarakat Papua dari dulu kala eksistensi sudah terbentuk budaya konduktif aman terkendali baik itu secara peribadi keluarga maupun mengadaptasi organisasi manapun. Kita tau Orang Asli Papua (OAP) pada umunya bersifat aklamasi bersuka cita, hati terbuka terhadap sesama, yang tidak pernah banta, tidak pernah marah dan tidak pernah ditolak atas semua sumbangsi ideology dari luar datang untuk membangun Negriku Papua dalam bingkai NKRI. Kita tau bahwa dari duluh purba kala Orang Asli Papua (OAP) hidupnya mempunyai aturan budaya sendiri seperti salah satunya jangan membunuh, jangan berzinah, bila melanggar salah satu nilai norma aturan budaya akan kenakan sangsi belarti ini adalah hakim sendiri tidak hanya dari manusia melankan dari ROH, dari situ eksistensi Manusia Papua sangat menyadari dengan pelanggaran tidakan fisik yang bersifatnya criminal baik itu unsur tidak segaja maupun segaja, saat itulah Masyarat Asli Papua (MAP) sudah terbentuk budaya hidup aman, damai sampai saat kini masih berlaku. Burung Cendrawasi dengan sendirinya alam sudah mengukir poster bentuknya, jenisnya sehingga mempunyai karakteristik sendiri diamana memiliki eksistensinya dapat melindungi dengan aturan budaya sendiri adalah Papua………………………….100%. Potensinya serbah lengkap yang tidak meraguhkan hidup hanya Orang Asli Papua (OAP) sendiri di Papua………………….? . Namun meninjauh kembali dinamika perkembangan masyarakat Papua sangat memperihatingkan dengan penegasan hakim kebijakan Pemerinah Indonesia dan aturan Indonesia dalam bingkai NKRI tidak relevansi dengan tradisi hidup Orang Asli Papua (OAP), maka hidup Orang Asli Papua (OAP) jadi binggun manakalah yang Orang Papua ikuti dan manakalah Orang Asli Papua bertindak dalam hidup, karena mencari ekonomi untuk melengkapi kebutuhan kelaurga saja tidak mendapatkan ruang yang layak, semua nasip hidupun mengalami frustasi dalam semua sector karena semua aspek Pembangunan Papua distir dari pusat. walaupun hidup Orang Asli Papua (OAP) lima belas Tahun menjalan dalam Undan-Undang No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusu sekarang disebut Otonomi Plus di Papua sampai saat ini masih belum sejhatera. Pertanyaan apa Tujuan OTONOMI PLUS di Papua…………………?. Walaupun Orang Asli Papua (OAP) hidup dalam otonomi plus akan tetap miskin diatas negrinya sendiri karena semua Orang Asli Jawa akan kirim lewat cara lain di Papua seperti salah satunya rencana PANLIMA menambahkan Kodam/aparat TNI di Papua belum lagi trasmikrasi yang dimana ungkapan Menteri ……………….. rencananya akan kirim di Papua lagi. Semua TNI/PORLI dan Trasmikrasi yang sudah datang dan akan datang ini menimbulkan pertanyaan bagi orang Papua bahwa apakakah orang Asli Papua (OAP) akan aman dan sejhatera……? Semua kebijakan pemerintah Indonesia adalah dengan ujuang hanya mempersempit nasip hidup dan mempersempit lapangan pekerjaan bagi Orang Asli Papua maka orang Asli Papua (OAP) tetap akan hidup miskin diatas negrinya dan orang Asli Papua (OAP) akan menghabisi sampai punah . Saya Dempix menyampaikan Jikalau kebijakan pradikma Pemerintah Indonesia modelnya seperti itu Pemerintah Papua bukanlagi hidup dalam sistem desentralisasi melaingkan masih dalam sentralisasi karena kebijakannya Pemimpin Papua tidak menakomodir, meneruskan dan menerima dan kami masyarakat Papua pun bukan lagi warga Negara Indonesia karena tidak menerima aspirasi penduduk Papua sebagai warga Negara Indonesia. Sementara dengan adanya aparat TNI/PORLI yang ada di Papua saja eksistensi Orang Asli Papua (OAP) masih dalam trauma karena Orang Asli Papua tampa ada alasan yang jelas dapat diniyaya oleh aparat TNI/PORLI Indonesia salah satu contonya peristiwa pembunuhan yang terjadi di Kabupaten Paniai dalam pekan ini 4 orang tewas anak-anak sekolah tampa ada argument yang pantas. Kejadian pembunuhan illegal belum terhitung lagi terjadi pembunuhan secara legal. Tindakan oleh aparat TNI/PORLI di Papua sama saja dengan ajin gogon dan gigit dilur rumah tampa memanang marga yang penting Orang Asli Papua di digigit/dibunuh. Saya takut……………………takut………………takut. Karena hidup model begini tampa ada solusi dan langka-langka yang bijaksana dari Pemimpin Pemerinah Indonesia terhadap Orang Asli Papua (OAP) 5 Tahun kedepan akan punah habis. Jadi saya sampaikan kepada PANLIMA harus jeli melihat situasi problematic yang terjadi di Papua jangan ingat Penambahan KODAM , supaya Indonesia tetap konduktif. Setiap Problematik yang terjadi anara Masyarakat Asli Papua (MAP) dan TNI/PORLI Indonesia harus ada identifikasi kronologis problemaik pihak mana yang salah dan pihak manapula yang benar dengan sebenar-benarnya dan saat identifikasi harus ada hoknum bersangkuan dan saksi hidup mata yang tidak pernah membelah ke siapapun dia, selesaikan sesuai dengan berdasarkan kodidor hukum yang tertuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang sudah diamandemen. Jangan hanya masalah interen keluarga intervensi oleh pihak keamanan sampai terjadi ke Penembahkan dan masalah dibuat sendiri seolah-olehnya orang lain yang dipersalahkan sampai mengadudomba proses penyelesainya di pihak yang pertama salah, akhirnya yang tidak membuat masalah disalahkan yang salah diperbenarkan. Model ini yang terjadi di Papua dalam proses penyelesaian masalah di Papua.

    Sumber : Facebook
    Tulis Oleh .Demi Pigai
    Public Oleh : Nataniel Uti
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Benar itu, sepakat sekali, tolak segala macam kepentingan militer diatas tanah Papua.

      BalasHapus

    Item Reviewed: KAMI INTELEKTUAL PAPUA MENOLAK ATAS PERNYATAAN PANLIMA RENCANA TAHUN 2015 AKAN MENAMBAH APARAT KODAM DI PAPUA Rating: 5 Reviewed By: Awi_ PAPUA
    Scroll to Top