• Latest News

    Jumat, 13 Mei 2016

    PESTA PERINGATAN TURUNNYA ROH KUDUS



    (PENTAKOSTA)  ”Kejadian 11: 1″

    Oleh : NATANIEL UTI,S.TH.S.PD

    Dalam siklus tahunan liturgi Gereja Pentakosta adalah "peringatan yang terakhir dan sebagai hari besar." Ini adalah perayaan Gereja terhadap kedatangan Roh Kudus sebagai akhir-pencapaian dan pemenuhan-dari seluruh karya historis keselamatan. Untuk alasan yang sama, bagaimanapun juga, ini juga merupakan perayaan awal: dari "hari ulang tahun" Gereja sebagai kehadiran Roh Kudus diantara jemaat, kehidupan baru di dalam Kristus, kasih karunia, hikmat pengetahuan, pengangkatan kita kepada Allah dan kekudusan.
            Hal ini memiliki makna ganda dan sukacita ganda yang dinyatakan kepada kita. Pertama-tama, di tengah-nama perayaan itu. Pentakosta dalam bahasa Yunani berarti lima puluh, dan dalam simbolisme nomor suci Alkitab, nomor lima puluh melambangkan kegenapan kedua waktu dan apa yang berada di luar waktu: Kerajaan Allah itu sendiri. Ini melambangkan kepenuhan waktu dengan komponen pertama: 49, yang merupakan kegenapan dari tujuh (7 x 7): jumlah waktu. Dan, itu melambangkan bahwa yang berada di luar waktu dengan komponen kedua: 49 + 1, yang satu ini menjadi hari baru, "hari tanpa malam" dari Kerajaan Allah yang kekal. Dengan turunnya Roh Kudus atas murid-murid Kristus, karya keselamatan, karya penebusan ilahi telah selesai, pengungkapan yang penuh, mengungkapkan, semua warisan yang dijanjikan: itu menjadi milik kita sekarang dengan karunia-karunia yang "tepat", untuk menjadi apa yang telah kita alami didalam Kristus dan sebagi warga Kerajaan-Nya.

    1.  THE VIGIL OF PENTECOST
    Liturgi malam dimulai dengan undangan khidmat:
    "Mari kita merayakan Pentakosta, kedatangan Roh Kudus, hari pemenuhan janji, dan pemenuhan harapan, Misteri yang besar dan berharga."
    "Roh Kudus menyediakan segalanya, meluap dengan nubuatan, penuh dengan tahbisan, Telah mengajarkan kebijaksanaan bagi yang buta huruf, telah memperlihatkan para nelayan sebagai seorang teolog, DIA menyatukan seluruh sidang Gereja”
              Dalam tiga bacaan dari Perjanjian Lama (Bilangan 11:16-17, 24-29; Joel 2:23-32; Yehezkiel 36:24-28) kita mendengar nubuatan tentang Roh Kudus. Kita diajarkan bahwa dalam seluruh sejarah umat manusia diarahkan kepada hari di mana Allah "akan mencurahkan Roh-Nya atas semua manusia." Hari ini telah datang! Semua harapan, semua janji, semua harapan telah dipenuhi. Pada akhir himne Aposticha, untuk pertama kalinya sejak Paskah, kita menyanyikan nyanyian rohani:
    "O Raja Surgawi, Penghibur, Roh Kebenaran ...,"
    yang menyatu dengan kami membuka semua penyembahan kami, semua doa yang seolah-olah hidup dan menjd! nafas Gereja, dan yang datang kepada kami dan pada "keturunan" kami dalam sembahyang yang kudus ini, memang sangat merasakan Roh Kudus "datang dan tinggal di dalam kami."

    Setelah mencapai puncaknya, sembahyang senja berlanjut sebagai luapan sukacita bagi "terang Penghibur sejati yang telah datang dan menerangi dunia." Dalam bacaan Injil (Yohanes 20:19-23) peringatan ini ditafsirkan sebagai hari raya Gereja, bersifat mysteri ilahi. Tuhan mengirimkan murid-murid-Nya ke dunia, karena Ia sendiri diutus oleh Bapa-Nya. Kemudian, dalam antifon dari Liturgi, kita menyatakan universalitas khotbah para rasul, signifikansi kosmik dari perayaan itu, pengudusan seluruh dunia dan manifestasi Kerajaan Allah yang sejati.
    2. THE VESPERS OF PENTECOST
    Keunikan liturgi Pentakosta adalah Vesper yang sangat khusus pada hari itu sendiri. Biasanya ibadah ini diikuti langsung dengan Liturgi Suci. Layanan ini dimulai dengan khidmat "menyimpulkan" seluruh perayaan, sebagai perpaduan iturgi. Kita memegang bunga di tangan kita melambangkan kegembiraan musim semi abadi, dibuka oleh kedatangan Roh Kudus. Setelah meriah gerbang sukacita ini, puncaknya dalam kidung agung Prokeimenon:
    Siapakah Allah yang begitu besar seperti Tuhan kita?"
    Kemudian, setelah mencapai puncak ini, kita diajak untuk berlutut/bersujud. Ini adalah berlutut/bepertama kami sejak Paskah. Ini menandakan bahwa setelah ini lima puluh hari dari sukac!ta Paskah dan mengalami kepenuhan Kerajaan Allah. Sekarang Gereja akan memulai ziarah nya melalui waktu dan sejarah. Ini adalah senja dan mendekati malam, di mana godaan dan kegagalan menanti kita. Kapanpun, lebih dari apa pun, kita perlu bantuan Ilahi, kehadiran dan kuasa Roh Kudus, yang telah dinyatakan kepada kita, yang sekarang akan membantu kita dalam usaha kita terhadap pemanunggalan ilahi dan keselamatan sejati.
    Semua ini terungkap dalam tiga doa yang dibaca sekarang sebagaimana kita semua berlutut dan mendengarkan bacaan. Dalam doa pertama, kita dibawa kepada Allah melalui pertobatan kita, permohonan kita akan pengampunan dosa, sebagai prasyarat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
    Dalam doa kedua, kita memohon Roh Kudus untuk membantu kita, agar mengajar kita untuk berdoa dan mengikuti jalan yang benar di malam gelap dan sulitnya beradaan di dunia. Akhirnya, dalam doa ketiga, kita diingatkan akan semua orang yang telah mencapai perjalanan mereka di dunia, namun yang telah bersatu dengan kita di dalam Kasih Allah yang kekal.


    Sukacita Paskah telah berakhir dan kita menunggu hari fajar abadi. Namun, kita mampu mengetahui kelemahan kita, merendahkan diri kita dengan berlutut/bersujud, kita juga tahu sukacita dan kuasa Roh Kudus yang telah hadir. Kita tahu bahwa Allah menyertai kita, bahwa di dalam Dia ada kemenangan kita.
    Dengan demikian berakhirlah hari raya Pentakosta dan kita memasuki masa tahunan ("waktu biasa"). Namun, setiap hari Minggu sejak sekarang akan disebut "setelah Pentakosta"-dan ini berarti bahwa itu adalah kekuatan dan cahaya dari kelima puluh hari dimana kita sendiri yang akan menerima kuasa Roh Kudus, serta bantuan Ilahi dalam perjuangan kita sehari-hari. Pada hari Pentakosta kita menghias gereja-gereja kita dengan bunga-bunga dan ranting-untuk menghijaukan Gereja yang "tidak pernah menjadi tua, tapi selalu muda." Seperti cemara, pohon yang terus hidup dengan rahmat dan kehidupan, sukacita dan kenyamanan. Untuk Roh Kudus-"Pemberi Berkah dan Pemberi Hidup-datang dan berdiam di dalam kita, dan menyucikan kita dari segala kenajisan," dan mengisi hidup kita dengan makna, cinta, iman dan harapan.
    1. Kejadian 11: 1
    Ada satu peristiwa dalam Alkitab yang merupakan momen yang menunjukan kesombongan manusia, yang dikenal dengan peristiwa Menara Babel (Kejadian 11:1-4). Sebelum kejadian Menara Babel semua manusia berbicara dengan satu bahasa. Kita akan membandingkan peristiwa Menara babel dengan peristiwa Pentakosta yang terjadi pada jaman Perjanjian Baru.1.    MENARA BABEL
    Peristiwa Menara Babel menunjukkan bahwa kesombongan manusia akan berakhir pada perpecahan meskipun pada masa itu manusia berbicara dengan satu bahasa, dan itulah yang iblis inginkan. Terdapat perbedaan antara peristiwa Menara babel dengan peristiwa Pentakosta. Pada saat peristiwa menara Babel, manusia yang awalnya hanya memiliki satu bahasa dikacaukan Tuhan dalam berbagai bahasa, sehingga terjadi perpecahan, dan berakhir dengan gagalnya pembangunan Menara. Tetapi pada peristiwa Pentakosta, manusia yang pada dasarnya memiliki begitu banyak bahasa disatukan lewat pencurahan Roh Kudus, manusia berbicara satu bahasa yang dimengerti oleh semua, yaitu dalam bahasa Roh. Lewat Roh Kudus tercipta harmoni. Ada kesatuan dan kombinasi, bukan keseragaman. Keseragaman belum tentu membawa kesatuan dan harmoni.
    2.    TURUNNYA ROH KUDUS
    Peristiwa turunnya Roh Kudus berawal di loteng Yerusalem. Ada beberapa hal yang terjadi saat Roh Kudus turun atas orang-orang percaya:
     Murid-murid Yesus adalah orang-orang biasa,
    à(Kisah Para Rasul 2:6)  tetapi ketika Roh Kudus turun, mereka menjadi orang-orang yang luar biasa. Jika Roh Kudus beserta kita maka ada mujizat, ada perubahan hidup, pola pikir bahkan perubahan dalam tubuh kita. Ketika Roh Kudus turun atas murid-murid mereka menjadi penginjil-penginjil yang efektif. Ada api yang menyala-nyala yang membakar iman mereka untuk menyampaikan berita keselamatan.
    Terbentuknya komunitas orang-orang percaya.
    àKisah Para Rasul 2:44  Ketika Roh Kudus turun maka terbentuklah harmoni dalam komunitas orang percaya. Ada perbedaan antara Persatuan dan Kombinasi. Persatuan itu hanya memiliki arti ‘bersama-sama/ keseragaman’ tetapi kombinasi berarti ‘bersama-sama walaupun berbeda’. Dalam komunitas/ Family Altar jika tidak ada Roh Kudus maka hanya akan ada persatuan, tetapi bukan kombinasi. Karena Roh Kudus membawa kombinasi dan harmoni. Tuhan senang variasi, persatuan dalam perbedaan, karena itu keanekaragaman adalah karya Tuhan. Tetapi iblis senang dengan keseragaman.
    3.    IDENTITAS DALAM KEANEKARAGAMAN
    Bagaimana mendapatkan identitas dalam keanekaragaman bersama Roh Kudus?
     Datang berkumpul dan berdoa. Kita belajar
    àKisah Para Rasul 2:1  mengenai Doa Kesatuan. Penting bagi kita untuk berdoa dalam kesatuan hati, meminta hal yang sama, berdoa dengan satu tujuan, Allah mendengar doa kesatuan yang dipanjatkan dengan sepenuh hati.
    Kisah Para Rasul 4:32 –  Saling Berbagi.
    Kisah Para Rasul 4:31 –  Memberitakan Firman. Ada api penginjilan di dalam kita.
    Bertindak! Melakukan sesuatu. Jangan menunggu hingga besok, Tuhan ingin kita bergerak saat ini. Karena Roh Kudus nya akan dicurahkan bagi kita saat ini, ketika kita mau bergerak bersama dengan Tuhan.
    Roma 8:1 “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada didalam Kristus Yesus”
    II Kor 5:17 “Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
    Tuhan Memberkati!
    Ringkasan Kotbah
    Oleh: Elder. Paul Duk Wo Jung Fr Alexander Schmemann (1974)
    Holy Cross Orthodox Monastery





    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: PESTA PERINGATAN TURUNNYA ROH KUDUS Rating: 5 Reviewed By: Awi_ PAPUA
    Scroll to Top